ABOUT ME

This is the post excerpt.

Adidthya Faragita Yuniar.

Sejarah: 3 tahun setelah kakakku lahir, hadirlah aku ke dunia ini. Seorang cewek gemini yang lahir pada Hari Minggu, 12 Juni 1988, selepas waktu Shalat Ashar. Kalau melihat feng shui Cina, berarti saya mempunyai shio naga dan elemen udara (kalau nggak salah).

 

Saya tumbuh menjadi seorang balita gendut berkulit hitam dengan rambut dora. Mungkin karena ke-gendut-an saya itu, papa saya sering memanggil saya dengan sebutan Dora. Nama panggilan panjang: Doraemon. Saya termasuk generasi 90-an, jadi wajarlah saya hobi nonton Doraemon karena pada saat itu Doraemon termasuk salah satu kartun awal yang tayang di Indonesia. Bukan karena Dora Dora Dora The Explorer…

 

Dari Doraemon, akhirnya saya hobi nonton anime seperti Sailormoon, Wedding Peach, Twins, Minky Momo, Ikkyu-san, Saint Seiya, termasuk tokusatsu paling terkenal di generasi saya: Ksatria Baja Hitam dan Ksatria Baja Hitam RX. Bahkan hobi ini sampai sekarang masih saya lakoni. Nonton anime apapun yang seru, termasuk Naruto (dan versi film layar lebarnya, tapi tidak suka versi live action anime apapun kecuali Death Note), juga tokusatsu terbaru yang saya tonton di jaringan TV berbayar: Kamen Rider One.

 

Menginjak kelas 4 SD, papa mengganti nama panggilan saya menjadi Dura. Papa masih memanggil saya dengan sebutan itu hingga saya SMA.

 

Lepas SMA, saya akhirnya ikut SMPTN (saat itu namanya SPMB) dan luluslah saya di Universitas Padjadjaran. Setelah sekian lama kuliah, akhirnya terkuaklah asal muasal si Dura itu. Kembali dari kampung halamannya di Pulau Kalimantan tahun xxx (baca: lupa tahun berapa), Papa bercerita bahwa Dura adalah kependekan dari Durabu. Beliau adalah raja yang membuka daerah xxx (baca: lupa namanya). Di daerah tersebut ada bukti eksistensinya, yaitu sebuah makam bertuliskan namanya yang panjangnya mencapai xxx (baca: lupa lagi). Sekarang, daerah dan kerajaan yang beliau dirikan sudah bertambah luas dan menjadi bagian dari Kota xxx (baca: lupa) di Banjarmasin.

Saat itu, saya mendengar cerita tersebut sambil lalu. Namun, setelah beberapa tahun kuliah di Bandung (baca: Jatinangor, Sumedang) akhirnya paman ayah saya yang berasal dari Bandung (beneran) dan menikah dengan adik ibu beliau yang berasal dari Kalimantan menceritakan kisah lengkapnya. Jangan mengharapkan ini cerita sempurna karena saya masih lupa detail-detail pentingnya.

 

Jadi, Durabu itu adalah anak seorang raja di India. Karena pertarungan memperebutkan tahta, beliau akhinya meninggalkan India dan bermigrasi ke negara yang sekarang dikenal dengan nama Indonesia. Hingga suatu hari, sampailah beliau di daerah xxx di Pulau Kalimantan itu. Di daerah xxx itu, akhirnya beliau menikah dengan puteri raja xxx. Disinilah peran beliau yang membangun dan memperluas daerah kerajaan. (sayang, di sini cerita harus terhenti karena banyak detail yang tidak saya ingat). Singkat cerita, keturunan Durabu dan puteri raja itu ternyata ada hingga sekarang. Darah mereka mengalir ke keturunan mereka hingga sampailah ke ayah saya dan turunlah pada saya dan saudara-saudara sekandung saya.

 

Sekian cerita saya dan leluhur saya.

 

Dari nama Durabu, akhirnya ayah saya mengubah nama panggilan lagi menjadi Ogi. Mengapa begitu? Baiklah, saya jelaskan secara detail. (Kalau yang ini saya bisa).

 

Nama lengkap saya Adidthya Faragita Yuniar. Mengapa Adidthya? Papa saya sudah bernazar, anaknya laki-laki atau perempuan akan diberi nama Adidthya. Itulah sebabnya dari zaman saya sekolah SD hingga SMA, selalu salah jenis kelamin di kertas absen. Saya perempuan, tapi selalu ditulis L. Itu pula sebabnya, orang-orang yang berkenalan dengan saya (tidak secara tatap muka) termasuk abang-abang ojek online, selalu menyapa dengan awalan “Mas”. Ketika saya bertemu mereka atau mengangkat teleponnya, mereka akan bilang, “Maaf, Bu, namanya seperti laki-laki sih”. Saya akan jawab, “Nggak apa-apa kok, Pak. Bapak bukan yang pertama bilang begitu” sambil tersenyum, lalu dilanjutkan di pikiran saya, “Yakin juga kalau bapak bukan yang terakhir bilang begitu.”

 

Faragita. Mama saya menyukai nama kelompok paduan suara mahasiswa Universitas Indonesia. Namanya bukan Faragita, tapi Paragita. Beliau terinsipirasi dan jadilah nama tengah saya Faragita. Mungkin itu pula sebabnya saya sangat suka menyanyi dan mendengarkan segala macam musik yang menurut saya enak di telinga, mulai dari musik klasik macam Beethoven dan Mozart hingga musik Rock macam Linkin Park dan One Ok Rock. Kesukaan menyanyi itu membawa saya lulus seleksi tim paduan suara tingkat SMP, juga SMA. Sayang, saya tidak punya cukup nyali untuk ikut seleksi paduan suara mahasiswa UNPAD. Jadi, yah…sekarang cukup jadi penyanyi rumahan ajalah.

 

Yuniar. Ini sih jelas. Saya lahir di Bulan Juni.

 

So, karena saya anak tengah, jadi papa saya mencari nama panggilan yang benar-benar di tengah. Nama tengah: Faragita. Kata tengah: bukan Fara atau Gita, melainkan Agi. Setelah berkali-kali, papa saya merasa bunyinya tidak cocok. Jadi digubahlah nama itu sedikit menjadi Ogi.

 

Panjang ceritanya? Ok, saya stop soal nama.

 

Next, kepribadian saya. Saya terus berkembang. Dari perfeksionis jadi fleksibel sedikit. Dari kutu buku pelajaran jadi penikmat novel dan puisi. Dari plin-plan menjadi berprinsip. Dari well-organized tentang kegiatan, menjadi lebih ngikutin agenda kegiatan harian aja dengan pertimbangan waktu yang tidak baku atau kaku. Dari multitasking menjadi perencana penyelesaian tugas dengan fokus pada satu hal yang sedang dikerjakan dan ada di depan mata. Dari cuek menjadi serba mencoba sendiri. Dari tukang ingin tahu menjadi pembelajar yang butuh tutor yang bisa mengajarkan apa yang belum saya bisa. Dari penikmat film menjadi penonton tayangan edukasi dan informasi bermutu, tanpa lupa nonton sinetron (luar negeri) dan tetap nonton film “pilihan” di bioskop. Dari memandang dunia hitam-putih dan benar-salah menjadi paham ada area abu-abu dan dapat berkompromi dalam hal mengutarakan pendapat dan ide. Terkadang membicarakan pendapat dan memberikan saran secara frontal kepada orang yang sudah dianggap dekat, ramah, tegas terhadap kemanjaan, etc etc (baca: akan terus berkembang).

 

Hobi? Nyanyi, makan, tidur.

Kegiatan yang disukai: menyanyi, membaca buku dan artikel, traveling, jalan-jalan di mall, wisata kuliner halal, nulis apapun (puisi, cerita, bikin novel (yang masih belum beres sampai sekarang)), membuat karya kerajinan tangan sendiri (seperti membuat bros dan gantungan kunci), nonton anime, membuat desain pakaian dan apapun yang melintas di pikiran, mencoba marketing online, diskusi ide bisnis dan kehidupan, dan lain-lain.

 

Berbicara tentang menulis sebenarnya saya pernah bergabung menjadi community writer dan 7 karya saya berhasil terbit. Satu diantaranya berupa puisi. Pertama kali terbit, rasanya senang bukan kepalang. Namun, karena beberapa hal yang mengecewakan, akhirnya saya memutuskan untuk berhenti.

 

Namun, ternyata menulis selalu menyenangkan untuk saya. Karena itu, saya tidak berhenti menulis. Saya menyadari bahwa isi otak saya perlu disusun dalam bentuk tulisan. Menulis mengasah logika berbahasa, menulis membuat saya mampu menuangkan pemikiran secara runut, dan menulis membuat saya bebas berimajinasi. Menulis itu menyenangkan.

 

Setidaknya, itulah yang ada dalam pikiran cewek gemini yang katanya versatile dan witty ini dan itulah, sekelumit cerita tentang saya.

post

Author: adidt

A girl who loves writing and doing many things ^_^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s